Sarjana Peternak Bebek Hingga Diusung Masyarakat Jadi Calon Kades Desa Kejobong

Onlinebuser.com, Purbalingga – Kabupaten Purbalingga akan dimeriahkan pesta demokrasi Pilihan Kepala Desa (Pilkades) yang akan dilaksanakan secara serempak pada hari Minggu (16/12/2018) mendatang. Salah satu yang akan mengikuti Pilkades yaitu Desa Kejobong Kecamatan Kejobong Kabupaten Purbalingga. Ada dua kandidat pada Pilkades Desa Kejobong, satu diantaranya adalah Chamdan Nugroho yang akrab disapa Nunu. Ia mengaku memutuskan ikut mencalonkan diri karena dorongan dari masyarakat.

Selama masa hidupnya, tidak pernah terpikirkan ingin menjadi Kades. Namun, menjelang masa Pilkades di Desanya, sejumlah kelompok masyarakat membujuk untuk mencalonkan diri. Permintaan untuk maju mencalonkan Pilkades sempat ditolak sampai beberapa kali. Namun, sejumlah masyarakat yang mengusungnya seperti tidak pernah putus asa. Nunu sampai Kehabisan alasan untuk menolak, hingga akhirnya ia meminta kepada masyarakat yang mengusungnya untuk meminta restu dari keluarganya. Oleh orang tua Nunu, tawaran tersebut jua tidak lantas disetujui. Setelah dua sampai tiga kali ditolak, akhirnya ibunya memberikan izin.

“Bismillah saja, karena ini benar-benar diusung oleh masyarakat. Beberapa kali sempat saya tolak bujukan itu, sampai saya bingung akhirnya suruh minta restu orang tua, oleh bapak dan ibu juga sempat tidak setuju, tapi akhirnya ibu mengizinkan, jadi saya mau,” kata Calon Kades No 1 itu.

Ia berkomitmen mengembangkan sektor ekonomi dari Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), Ketika memimpin Desa kelak, juga berjanji untuk mewujudkan transparasi sistem pemerintahan desa. Karena baginya, menjadi kepada desa merupakan titipan dari masyarakat. Sehingga, dia ingin selalu mendapat kontrol dari masyarakat. “Tidak banyak program dulu, yang jelas akan menerapkan transparasi sistem pemerintahan, keudangan, dsb kepada masyarakat,” katanya.

Disadarinya oleh Nunu, bahwa saat ini desa menjadi primadona yang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Diantaranya dengan digelontor Dana Desa yang tidak sedikit jumlahnya. Sedangkan tujuan dari hal itu adalah mewujudkan desa yang mandiri. Sehingga, dalam pengelolaanya, tentu dia akan manfaatkan benar-benar untuk kemajuan desa.

“Jika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik dan jujur, dana desa berupa DD dan ADD itu sangat mungkin untuk memakmurkan desa, memajukan desa, menjadikan desa mandiri, dengan memberdayakan masyarakat desa. Kuncinya adalah jujur dan inovatif, untuk itu saya akan merangkul kalangan muda untuk ikut memikirkan desa,” katanya.

Suami dari Fitriana Saptaningsih ini baru menginjak usia 30 tahun. Usia yang cukup muda untuk menjadi seorang kades. Usia muda dinilai menjadi satu nilai tambah untuk menjadi pemimpin, karena bisa lebih inovatif. Tentunya juga karena didukung dengan pendidikannya, yakni strata-1.
“Karena ibu merestui, akhirnya saya terima tawarannya, dan saya bulatkan tekad. Mungkin ini sebagai amanah dari masyarakat,” ujar lulusan Universitas Negeri Yogjakarta (UNY) Fakultas PGSD ini.

Setelah mendapatkan restu dari orang tua khususnya sang ibu, Nunu akhirnya memantapkan dirinya. Bekal pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, dia ingin memajukan desa tempat tinggalnya. Tidak hanya soal pembangunan infrastrutur, tentu juga membangun kesejahteraan masyarakatnya. Hal tersebut menjadi program prioritasnya jika menjabat menjadi kades nanti.

Misi menyejahterakan kehidupan masyarakat Kejobong rasanya bukan hal yang berlebihan. Pasalnya, Nunu sendiri dalam keseharian merupakan seorang wirausaha. Sejak delapan tahun silam, dia menggeluti ternak bebek. Hingga kini, bidang itu yang menjadi tumpuhan hidupnya untuk menafkahi keluarga. “Sejak tahun 2010 saya mulai ternak bebek, itu modal dari gogling di internet. Meskipun ijazah saya PGSD, tapi sama sekali saya tidak minder atau gengsi menjadi peternak yang notabennya bersentuhan dengan tempat kotor,” katanya.

Nunu mengakui memang dirinya tidak terlalu aktif di organisasi kemasyarakat. Tapi hal itu bukan berarti dia tidak bermasyarat. Hal itu dibuktikan dengan kemampuannya menjaring warga sekitar untuk ikut menekuni usaha bebek. Sekitar tiga puluh orang warga saat ini ikut dalam kelompok yang dia namai Republik Bebek.

Pada Republik Bebek itu tidak hanya dilakukan proses pembesaran saja. Namun kini di Desa Kejobong juga dilakukan proses penetasan bebek. Untuk penjualan dia bersama kelompok binaanya sudah berhasil masuk ke restoran besar dan perhotelan. “Saya sendirian, prosesnya tentu tidak mudah, namanya juga merintis. Setelah mulai memetik hasil, pada kesempatan nongkrong saya tularkan ilmunya, dan sampai sekarang ada puluhan orang, termasuk dari luar Kejobong yang berabung,” katanya.

Generasi muda desa lebih cenderung lari ke kota besar ketika menamatkan sekolahnya. Karena itu, Nunu memiliki komitmen ingin menggerakan masyarakat untuk berwirausaha. Sehingga bersama masyarakat bisa menjadikan desanya sebagai desa mandiri.
“Desa Kejobong salah satu penghasil singkong. Namun selama ini rata-rata petani masih menjual dalam bentuk singkong, setelah dikirim ke luar kota dan barang olahannya masuk lagi di Purbalingga. Kenapa tidak kita olah saja langsung disini, nilai jualnya jadi lebih tinggi, membuka lapangan kerja juga,” ucapnya.

 

 

Liputan Rillis : Kurniawan.
Editor : Nofri.

2 Comments on Sarjana Peternak Bebek Hingga Diusung Masyarakat Jadi Calon Kades Desa Kejobong

  1. Ini yang patut di contoh oleh generasi muda!
    Tak peduli malu walaupun S1 tapi tetap semangat!!

  2. semangat berjuang pahlawanku,pantang mundur

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!