Warga Desa Tawengan Kecamatan Sambi, Boyolali Pertanyakan Penggunaan Dana Desa

Onlinebuser.com, BOYOLALI – Penggunaan dana bantuan pemerintah pusat yang biasa disebut Dana Desa (DD) di Desa Tawengan Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali mendapat sorotan warga. Kepada Media SKM BUSER / ONLINE BUSER, seorang warga yang menuturkan, ada dana Desa yang patut diduga tidak transparan.

“Pengurukan tanah di Lapangan Duwon di Desa setempat katanya menghabiskan dana mencapai Rp. 100 juta padahal untuk kegiatan perataan saja. Selain itu, pembangunan talud yang berlokasi di sebelah lapangan juga sempat ambrol diterjang banjir padahal baru 1 bulan dibangun,” kata warga yang minta dirahasiakan identitasnya, Sabtu (15/6) siang.

Sementara itu, warga yang lain bercerita, ketika ada pengerjaan talud di sebelah timur Kampung Sudon sempat dipertanyakan. Pasalnya, dari kegiatan tersebut masih bisa tersisa 40 sak semen. “Waktu itu akan ada pengerjaan pembuatan talud. Warga diminta untuk kerja bakti mengeruk tanah yang akan dibuat talud dan pengerjaan sisanya dikerjaan pihak desa. Pada akhir kegiatan masih tersisa 40 sak semen yang selanjutnya ke pihak RT. Anehnya, apa kegiatan tersebut tidak direncanakan secara matang sampai-sampai masih ada sisa semen sebanyak itu,” kata warga yang enggan disebutkan namanya.

Lanjutnya, ada juga pengerjaan talud di dukuh Cudon yang lokasinya di sebelah tanah milik kepala desa. Ia menduga tujuannya agar sawah yang ada tidak kebanjiran ketika musim hujan tiba. “Sebenarnya lokasi pengerjaan talud tidak di situ tapi kemudian dipindahkan ke lokasi dekat sawah milik pak lurah. Sepertinya pembuatan tersebut supaya tanah pak lurah tidak kebanjiran,” katanya.

Menaggapi permasalahan tersebut, Kepala Seksi Pelayanan dan Kesra Desa Tawengan Kecamatan Sambi Boyolali, Syamsudin membenarkan adanya talud yang sempat ambruk di sekitar lapangan. Namun ia membantah bila talud itu baru 1 bulan selesai dikerjakan.

“Tidak benar bila talud itu amrol setelah 1 bulan berdiri. Talud itu dibangun pada tahun 2016 dan ambruk di akhir tahun 2017 karena terjangan banjir. Pelaksanaan pembangunan juga sudah dikonsultasikan dengan pihak kecamatan,”katanya kepada Buser Online, Senin (17/6) pagi. Ia menjelaskan, untuk biaya pengerjaan pengurukan tanah lapangan dibagi dalam 3 tahun berjalan. Pada tahun 2016 dikucurkan dana Rp200 juta, pada 2017 ada Rp80 juta dan pada 2018 dananya sekitar Rp 100juta.

Terkait pengerjaan talud di dukuh Gudon ia mengaku baru mendengarnya. Ia berharap warga yang mengetahui peristiwa tersebut untuk melaporkan ke pihak desa untuk selanjutnya diadakan pemeriksaan benar atau tidaknya peristiwa tersebut.

Mengenai pengerjaan talud yang katanya dibangun dekat sawah milik pak lurah ia membantah dan mengaku sawah tersebut bukan milik kepala desa. Ia menyebut bila di sekitar dukuh tersebut memang dibangun bangunan yang dipergunakan untuk irigasi.

“Pembuatan irigasi di daerah tersebut sudah melalui kesepakatan banyak pihak. Semua kegiatan yang dilakukan pihak desa sebelumnya sudah dikonsultasikan dengan BPD dan pihak lain melalui Musrenbangdes. Seluruh kegiatan di desa kami sudah dilakukan pemeriksaan pihak inspektorat dan alhamdulillah semua tidak ada masalah. Insya Allah seluruh kegiatan di desa kami sudah dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Liputan/Rillis : (Wagiman CW, SH)
Publish : (Baraboy)

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: