Diduga DiTuduh Mencuri Oleh Sejumblah Guru Dan Kepsek, Murid Kelas 4 SDN Luwung 2 Kec.Mundu Kab.Cirebon Kini Mengalami Trauma Berat Tak Mau Sekolah Lagi

Onlinebuser.com, CIREBON- Merasa dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya oleh sang guru dan kepala sekolah, siswa kelas 4 SDN 2 luwung, kecamatan mundu Kabupaten Cirebon Jawa barat. Yang berinisial PS (9) akhirnya trauma untuk bersekolah lagi.

Pada hari Senin (10/12/) PS yang biasanya bersemangat sekolah, kini enggan untuk masuk sekolah.
Orangtua PS, NURHAYATI, menyesalkan sikap para guru dan pihak kepala sekolah yang membuat anaknya secara psikologis tertekan, sehingga enggan bersekolah.
Apalagi karena ulah para guru dan pihak kepala sekolah, PS kini menjadi bahan ejekan teman-temannya di sekolah maupun tetangga dan temen sekitar tempat tinggalnya.

PS dianggap pencuri dan selalu diejek rekan sekolahnya dan disekitar tempat tinggalnya.
Padahal, kata Orangtuanya, anaknya itu tidak pernah sama sekali mencuri uang gurunya. PS dipaksa mengaku mencuri oleh para guru dan kepala sekolahnya di SDN 2 Luwung.

“Institusi pendidikan macam apa yang membuat siswanya yang masih anak-anak ini, menjadi trauma. Ini sudah tidak benar,” kata orangtua PS mengatakan kepada awak media onlinebuser.com Senin (10/12/18).
Orangtua korban berharap pihak sekolah dan para guru bertanggung jawab atas masalah yang menimpa Anak saya.

Menurutnya guru yang membuatnya anak saya tertekan secara fisikologis dan trauma berat, harus mendapatkan sangsi.
Orangtuanya menuturkan PS, merupakan anak petama dari suami yang kedua Mereka tinggal di Desa Luwung kecamatan mundu kabupaten cirebon, RT/RW 01/02, menuturkan, peristiwa berawal pada hari Rabu (05/12/18) minggu kemarin, saat jam istirahat disekolahnya.

Lalu ada seorang murid kelas 1 katanya melihat PS ada diruangan guru, lalu sang murid itu ketika ditanya ENDANG yang mengaku kehilangan uangnya sebesar RP.800,000.(delapan ratus ribu rupiah).
Iansung mendatangi PS, “Tanpa bertanya dan melakukan investigasi, sang guru langsung mengatakan di depan murid-murid lainnya, bahwa PS adalah pencuri. Kata dia ‘murid saya ternyata ada pencuri”, “kata orangtuanya menirukan ucapan sang guru seperti dituturkan terhadap PS.
PS lalu disidang di ruang guru untuk meminta maaf dan mengakui perbuatannya.

“Merasa tidak mencuri, PS ngak mau mengakui, pada saat itulah HJ JUNASI selaku kepala sekolah dan ENDANG sebagai guru ditempat PS belajar, menekan dan akan melaporkan kepada polisi kalau sih PS tidak mau mengakuinya, karena takut oleh tekanan guru dan kepala sekolahnya ahirnya PS terpakasa mengakuinya walau PS tidak pernah melakukanya, perbuatan yang ditudukanya dengan tanpa bukti.

Karena tidak terima, ibu PS mengadukan hal ini kepada Ormas (Grib) Gerakan Rakyat Indonesia Baru dan Wartawan SKM Buser, lalu mendatangi sekolah dan meminta konfirmasi dan klarifikasi. “Saat itu terjadi perdebatan yang tak terlalu sengit, lalu upaya klarifikasi itu tidak menuai hasi dan sang kepalasekolah seolah menatang terhadap pihak orangtua korban yang didampingi Ormas Grib dan media SKM Buser yang pada saat itu mendampingi ibu korban. Senin (10/12/18)

Ditempat terpisah sala satu warga luwung sendiri mengatakan Memet tukang kebun yang konon katanya suda diangkan menjadi PNS itu mengatakan kepada salasatu warga luwung yang namanya tidak mau disebutkan Memet berkata dengan lantang mau ndatangin berapa ormaspun saya tidak takut, akan saya minum ucap Memet tidak tau apa maksudnya ucapan memet gak ngerti saya,” paparnya.

A. Saeku yang mengaku sebagai korwil mengajak supaya orangtua korban tidak melanjutkan perkara tersebut kerana hukum, karena menurut A. Saeku hal ini akan menambah beban buat anak itusendiri, tapi sang ibu korban tidak mau karena dinilai A. Saeku pihak sebelah tampa memikirkan nasib dan beban moral anak dan orangtuanya yang fsikologisnya masi labil dan seakan A. Saeku tidak mau perduli dengan nama baik anak dan kedua orangtuanya, PS pun saat ditanya media Buser Senin kurang lebihnya pukul 03-00-WIB (10/12/18), tetap menolak mengakui hal yang dirasa tidak dilakukanya. Sementara teman-teman PS mengejek dan mengatai PS adalah pencuri karena tahu PS dipanggil ke ruang guru.

“Akhirnya hari Senin ini, PS nggak mau sekolah karena trauma. Dia sepertinya depresi dan tertekan. Namanya anak-anak, merasa sangat malu karena dituduh mencuri. Padahal PS merasa tidak mencuri,” imbunya kepada awak media SKM Buser.

Ditempat terpisah pimpinan ketua PAC Grib Kecamatan mundu menyayangkan dengan tindakan pihak sekolahan seperti Yusuf Endang dan Hj Junasi selaku kepala sekolah kalau menuduh dan menjastis muridnya tanpa didasari alat bukti.
kata istilah pepatah mengatakan, guru bisa diguguh dan ditiru, kalau kelakuanya pihak guru dan kepala sekolahnya seperti itu gimana mau ditiru mau jadi apa generasi anak bangsa kalau meniru kelakuan mereka yang sedikitpun tidak menyerminkan contoh yang baik pada anak didiknya, mau dikemanakan anak bangsa dengan lantang ketua PAC Ormas Grib Kecamatan Mundu mengatakan pada saat itu.

Ketua Ormas Grib tersebut juga tidak segan-sagan untuk melaporkan kejadian ini ke (KPAI) komisi perlindungan anak indonesia, dan ke (DISDIK) dinas pendidikan untuk menindak tegas guru dan kepala sekolah dalam menidak lanjuti kasus tersebut agar bisa dijadikan pelajaran dan chontoh supaya hal yang serupa tidak lagi terjadi dikalangan sekolahan, tegasnya kepada awak media.

 

 

Liputan Rilis:  (boby&.hendra)
Editor : Nofri

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: