OKNUM KUWU/KADES SETU WETAN KEC: WERU KAB: CIREBON JABAR, UCAP KOTOR LECEHKAN PROFESI WARTAWAN

Onlinebuser.com, – Cirebon. Berlagak seperti seorang preman jalanan, seorang oknum kuwu/kades (kepala desa) bersifat tidak bermoral dan bejad yang tak pantas disebut kepala desa, pasalnya oknum Kuwu tersebut berbicara tidak sopan terhadap dua wartawan/jurnalis disebuah media cetak & online.

Berawal kejadia pada hari senin tgl 10 juni sekitar jam 12:00 wib datang dua wartawan berinisial UD dan rekannya AG, mereka berdua berniat untuk megunjungi desa yang ada dikecamatan weru kabupaten cirebon jawa barat, yang tepatnya di Desa Setu Wetan yang biasa disebut (SEWET). Dan sesampainya mereka berdua dikantor balai desa, oknum kuwu bernama Hasyim/kebo ini, respon tidak baik terhadap dua wartawan tersebut, dan berkata tidak mengenakan.

“Wartawan yang datang kesini “telepong/kotoran kerbau semua”…! “ucap kuwu Hasyim kepada kedua wartawan sambil berjalan keluar, tidak sepantasnya seorang kepala desa/kuwu berucap seperti preman jalanan yang takberpendidikan dan bermoral, apa kata masyarakat Desa setu wetan yang punya seorang pemimpin seperti layaknya preman jalanan saja, gimana mau jadi contoh seorang public figur, tapi perkataannya kotor.

Terkait insiden/konflik dengan dua media tersebut, semua persatuan jurnalis kabupaten cirebon mendatangi oknum kadesa/kuwu untuk di mintai konfirmasi dan klarifikasi tentang permasalahan yang menimpa dua insan PERS tersebut, selasa (12/6/19) saat dikonfirmasi dan klarifikasi Kuwu Hasyim mengelak keras tentang perkataan dirinya yang mengatakan telepong/kotoran kepada dua wartawan itu, “saya tidak berkata “Telepong/kotoran” kewartawan dua itu, kalo saya berkata “telepong” mana bukti rekamnya ada tidak, dan saya tidak takut diberitakan atau dilaporkan”..! “terangnya hasyim kepada awak media dengan nada sombong sekali, saat ditemui dikantor desanyan.

Ditempat terpisah tokoh Aktifis independen cirebon bersatu, yang bernama DIDING mengomentari permasalahan dua wartawan dengan oknum kuwu/kades tersebut dengan serius, “kuwu tersebut mengelak dengan dasar tidak ada bukti rekaman tetapi ada dua saksi hidup yang menyakikan perkataan kuwu tersebut, jelas apa bila dihadapan hukum itu sudah masuk kerana pidana, “Pencemaran nama baik”, perkataan penghinaan profesi, apa lagi ini yang dilecehkan seorang wartawan. Pencemaran/penghinaan nama baik diatur dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP. Ancaman pidananya maksimal sembilan bulan dan pada ayat (2) ancaman pidananya maksimal satu tahun empat bulan. “Untuk fitnah, diatur pada Pasal 311 KUHP dengan ancaman penjara maksimal empat tahun,” tungkasnya diding.

Hingga beriata ini dilayangkan kedua belah pihak baik kuwu atau dua  awak media tersebut belum ada kesepakatan untuk bisa berdamai, tunggu berita selanjutnya dari kami insan Pers yang menyajikan informasi publik yang berimbang dan aktual.

(Sn)

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: