PRIA PEMASANG REKLAME BEKERJA SAMBIL SEBAGAI PENGEDAR PIL KOPLO

Onlinebuser.com, SEMARANG – Pengedar bersama bandar pil koplo berjenis Yarindo telah diringkus oleh para personel Polsek Gayamsari pada Kamis (4/1/2018) pukul 19.30 WIB lalu.

Pengedar ditangkap di Jalan Majapahit, Komplek Ruko Gayamsari, depan Karaoke Mr Locus, Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Kemudian bandar tersebut selanjutnya ditangkap usai pengedar memberi tahu tempat kediaman si bandar.

Pengedar tersebut bernama Danang Sapto Pamungkas (23), warga Kelurahan Lamper Tengah, Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sedangkan bandarnya bernama Imam Nur Cahyanto (24). Imam tinggal di kelurahan yang sama dengan Danang yakni, di Jalan Lamper Mijen, Lamper Tengah, Semarang Selatan.

Kepada Skm Buser Jateng,Imam selaku bandar mengaku mendapat keuntungan sebesar Rp 5.000 dari penjualannya ke pengedar.

Saya untung Rp 5.000 dari per satu stripnya,” ungkap Imam saat digelandang ke Halaman Mapolsek Gayamsari, Selasa (9/1/2018).

Imam bersama
Danang mengaku sudah menjual pil peneler tersebut sejak tiga bulan yang lalu.Mereka berdua menjual pil-pil tersebut kepada teman kerjanya.
Imam dan Danang bekerja sebagai pemasang reklame di Kota Semarang.

Saya cuman jualan ke teman-teman saya saja. Saya tidak menjual ke remaja atau anak-anak,” pengakuan Imam.

Mereka berdua menjual pil koplo tersebut untuk mendapat uang tambahan alias sebagai kerja sambilan.Mereka pun mengaku ikut juga mengonsumsi pil penenang tersebut.

Saya ikut mengonsumsi juga mas. Biar bisa teler,” tambah Imam.Dalam hal ini, Kapolsek Gayamsari Kompol Wahyuni Sri Lestari menyebutkan, masih mengejar satu tersangka lagi yang masih merupakan teman Imam dan Danang.

Orang yang sedang diburu Polsek Gayamsari ini adalah seorang bandar juga, sama seperti Imam.Dia berjuluk Pedro (34), warga Kabupaten Demak. Disinyalir, Pedro kabur ke tempat asalnya di Demak.

Pedro kini masuk catatan Daftar Pencarian Orang (DPO) karena belum tertangkap.Sementara itu, untuk kedua pelaku yang telah tertangkap akan dijerat pasal 196 UU nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Mereka berdua diduga memproduksi atau Mengedarkan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan yang Tidak Memiliki Ijin.Mereka berdua akan dihukum maksimal selama 10 tahun penjara,” jelas Kompol Wahyuni kepada Skm Buser Jateng, Selasa (9/1/2018).

 

Liputan/Rilis: Suyono Jateng
Editor : Nofri

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!