Polda Kaltim Bekuk Kakek Pengantar Sabu, Nilainya Capai Rp 11 Miliar

KALTIM – Polisi baru membeber kasus ini, Senin (23/10), karena masih pengembangan. Pria itu membawa barang haram dari Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara). Rencananya menuju Mamuju, Sulawesi Barat.

“Kami lakukan pengecekan tes narkoba (terhadap NS). Hasilnya positif sabu-sabu,” terang Direktur Reserse Narkoba (Ditreskoba) Polda Kaltim Kombes Kris Erlangga Widjaya bersama Kabid Humas Kombes Pol Ade Yaya Suryana, kemarin, sebagaimana dikutip dari Wartawan.

Setelah diamankan, NS yang dua kali keluar-masuk penjara karena kasus pencurian itu mengaku nekat membawa sabu-sabu ke Mamuju dengan imbalan Rp 20 juta setiap paket. Ada enam paket yang dia bawa. Total bakal menerima Rp 120 juta. Sebagai uang muka, dia baru menerima Rp 1,5 juta guna biaya perjalanan dari Tarakan hingga Mamuju.

Dari pengembangan, pria 67 tahun yang sudah memiliki dua cucu itu sepekan sebelum berangkat bertemu seseorang berinisial IW. Dia disebutnya sebagai pemilik barang dan yang mempekerjakannya.

IW memiliki rekan lagi inisial AW, keduanya warga Tarakan. Setelah disepakati, NS pun mempersiapkan diri sebagai pengantar sabu. Nantinya, ketika sampai di Mamuju ada yang akan menghubunginya. “Kami buru IW dan AW, namun sampai kini belum membuahkan hasil. Anggota masih di lapangan mencarinya,” kata Kris Erlangga.

Polisi menduga, sabu tersebut didatangkan dari Tawau, Malaysia, kemudian masuk Tarakan. Dari pemeriksaan, NS bersikeras baru mengenal IW. Namun setelah diselidiki, penyidik mendapatkan bukti bahwa pria yang sehari-hari bekerja serabutan sebagai tukang ojek ini sudah lama mengenal IW.

“Ada bukti, jika NS memang telah kenal lama (dengan IW). Dia mengaku, baru pertama kali membawa sabu karena tergiur imbalannya,” tambah Ade Yaya.

Sementara itu, NS mengaku, selama perjalanan ada seseorang yang menghubungi setiap waktu. “Ada yang telepon ingin tahu setiap posisi saya,” jawabnya pada Wartawan.

NS mengaku tak paham barang haram itu akan dibawa ke mana lagi. “Saya hanya diutus mengantar sampai Mamuju, nanti ada yang mengambil. Kalau nantinya mau dibawa ke mana lagi, saya tidak tahu,” ungkapnya.

Setelah ditimbang menggunakan timbangan digital, berat enam paket sabu-sabu itu mencapai 5.949 gram. Jika dirupiahkan mencapai Rp 11,8 miliaran, dengan harga per gramnya Rp 2 juta. “Ini bisa menyelamatkan 30 ribu orang dari mengonsumsi sabu dengan perkiraan 1 gramnya lima orang,” jelas Kris Erlangga.

Perwira melati tiga ini belum bisa memastikan, apakah setelah lolos dari Mamuju, sabu kemudian disebar lagi ke wilayah lain termasuk kembali ke Kaltim. “Kemungkinan bisa saja kembali lagi di Kaltim. Karena mata rantai narkoba ini bisa di mana saja,” urainya.

Kaltim diketahui menjadi sasaran penyalahgunaan narkoba tiga besar tertinggi di Indonesia. Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Benua Etam naik menjadi nomor dua terbesar setelah Jakarta. Yakni 2,9 persen dari 3,2 juta penduduk pada 2016.

Sebelumnya, 2015 Kaltim urutan tiga dengan 3,07 persen dari 3 juta penduduk. Peredaran tidak pernah surut meski banyak pelaku yang ditangkap. Akibatnya, mayoritas rumah tahanan (rutan) di polda, polres, dan polsek, diisi tahanan narkoba. Jumlah tersangka dan barang bukti sabu meningkat tajam pada 2016.

Analisis Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin, pemberantasan peredaran dan pengonsumsi narkoba tak harus dengan melakukan penangkapan. Sebab, berimbas pada semakin penuhnya rutan mulai polda hingga polsek, termasuk lembaga pemasyarakatan (lapas) seluruh wilayah Kaltim/Kaltara, yang mayoritas penghuninya adalah tersangka narkoba.

Sulit jika ingin membersihkan narkoba hingga titik zero narkoba. Karena masih banyak konsumennya yang terkena efek ketergantungan dari narkoba. Namun, ketika sudah tak ada konsumen, otomatis barang tak laku. Soal lolosnya sabu 6 kilogram diduga dari Tawau, dia tak kaget.

“Sebab, banyak jalur tikus di perbatasan. Dia dan TNI sudah maksimal melakukan pengawasan dan razia pintu masuk, khususnya pelabuhan dan pelabuhan tradisional,” ujarnya.

 

Liputan/Rilis: (Alank)
Editor : Nofri

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!