PLT GUBERNUR BENGKULU INGATKAN JURNALIS TETAP INDEPENDEN

Onlinebuser.com, Bengkulu- Secara Nasional, rupanya kemerdekaan pers di Provinsi Bengkulu masih terbilang rendah. Ini disampaikan Ketua Dewan Pers, Yosef Stanlay dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Dewan Pers dan Pemprov Bengkulu tentang kemerdekaan Pers serta profesionalisme media, sepekan yang lalu menurutnya selain Bengkulu, daerah yang juga mengalami nasib serupa yakni Papua Barat.

“Kemerdekaan pers memiliki kaitan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah. Makanya dengan penandatanganan nota kesepahaman ini nantinya diharapkan dapat meningkatkan indeks kemerdekaan pers, terutama di Provinsi Bengkulu ini. Karena pers bisa menjadi independen juga harus ada peran pemerintah didalamnya,” ungkap Yosef.

Disisi lain, Yosef menjelaskan, Dewan Pers sudah membicarakan wacana bersama Mendagri soal anggaran untuk belanja dengan media dikurangi. “Kalau bisa belanja media disetiap daerah itu dihapus. Kami ingin membuat jurnalis dan media profesional, terlebih saat ini sejumlah perusahaan media sangat tergantung dengan anggaran pemerintah,” katanya.

Ditambahkannya, saat ini di Indonesia ada 47 ribu media. 43 ribu diantaranya merupakan media online, dan yang kredibel hanya 168 media online saja.

“Tentu saja ini menunjukkan ribuan media online tidak melakukan kegiatan jurnalis secara berkelanjutan. Media inilah yang kita sebut media Tempo, tempo-tempo muncul tmpo-tempo tidak. Punya wartawan CNN (Cuma Nanya Nanya), karena tidak bisa buat berita,” ujar Yosef.

Sementara itu, Plt Gubernur Bengkulu, Dr. Drh. H. Rohidin Mersyah, MMA mengingatkan jurnalis atau setiap insan pers harus memposisikan diri selalu independen. “Kita buka pintu yang selebar-lebarnya, serta buang dan lepaskan diri dari intervensi supaya rekan media atau jurnalis bisa turut berperan dalam membangun daerah,” harap Rohidin.

Lebih jauh dikatakannya, pers harus berjalan di atas rel atau aturan yang ada. Sebab di dunia jurnalistik, ada kaidah-kaidah yang harus dipatuhi. “Sebesar apapun pers, tetap harus menjalankan sesuai kaidah yang ada. Saya memberi apresiasi kepada media lokal, sebab sebulan terakhir beritanya sudah mulai berubah. Dari tadinya, headline biasanya tentang kriminal seperti cabul dan pembunuhan. Kalau sekarang sudah berubah, beritanya memang proporsional,” singkat Rohidin.

 

 

Liputan/Rilis: (HUTASOIT-ARSI-BKL)
Editor : Nofri

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!