PEMBANGUNAN POS KAMLING KAMPUNG MALUANG DI SINYALIR TIDAK SESUAI ANGGARAN.

 

onlinebuser.com, Berau – Pembangunan pos keamanan lingkungan di kampung MALUANG yang menggunakan anggaran ADK (Alokasi Dana Kampung) di nilai tidak sesuai dengan penggunaan anggaran, dilihat dari fisik pembangunan yang hanya menggunakan material kayu seadanya dan bentuk bangunan yang tidak begitu memadai.

Menurut Nara sumber bahwa pembangunan pos kamling itu menelan anggaran sekitar Rp,17,000,000( tujuh belas juta rupiah), dan itu menurutnya menggunakan dana ADK (Alokasi Dana Kampung),

dan pembangunan pos tersebut tidak ada transparan dari kampung apa lagi ketua RT (rukun tetangga), semua pembangunan yang ada di kampung MALUANG ini tidak pernah ada keterbukaan atau mengadakan rapat kampung terlebih dahulu dengan masyarakat, bukan hanya masalah pos kamling saja masih banyak pembangunan lain yang sangat tidak ada penjelasanya, karena masyarakat tidak pernah di ikut sertakan dalam pembangunan itu, kami sebagai masyarakat merasa sangat tidak di hargai padahal sewaktu pemilihan pemimpin kampung dulu kami juga mendukung yang sekarang menjabat. “ungkapnya.

Di kampung MALUANG ini ada tiga sumber dana yang menjadi pendanaan pembangunan pertama ADK (Alokasi Dana Kampung) APBD 2, ada dana APBN pusat, dan sumbangan dari pihak ketiga, ini yang membuat ketidakjelasan pembangunan di kampung ini, kalau ada pemeriksaan dari instansi terkait semua di bilang benar, tapi belum tentu semua SPJ itu di buat sesuai dengan Riel yang ada di lapangan.

Mana pembangunan dana pemerintah dan mana pembangunan dana bantuan pihak ketiga  (PT. BERAU COAL) karena kami masyarakat tidak mengetahui dan tidak pernah di libatkan, ada lagi yang menjadi pertanyaan di masyarakat kampung MALUANG ini, untuk aktivitas pos kamling ini juga mempunyai anggaran dari dana ADK (Alokasi Dana Kampung) yang di kelola oleh setiap RT, konon setiap bulannya menggunakan dana sebesar Rp. 500,000 (lima ratus ribu rupiah), nah itu dana di buat kebutuhan apa di pos kamling, ini seakan akan pembohongan publik jadinya.

Menurut penjelasan warga bahwa baru-baru ini kampung MALUANG mendapat uang fee dari PT. TRH (Tanjung Redeb Hutani) dari hasil penebangan kayu yang ada di areal TRH, tepatnya di wilayah kampung MALUANG. Tetapi sampai saat ini uang fee itu tidak pernah di sampaikan kepada masyarakat dan di gunakan untuk apa, semuanya kabur seperti di telan bumi.

(M. RUSDIN)

BR

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!